BANJARBARU – Memasuki hari ketiga pelaksanaan Temu Nasional Tahunan (TNT) XII dan Workshop Mata Kuliah (WMK) X FORKOPINDO 2026, fokus utama kegiatan bergeser ke penguatan tata kelola akademik dan mutu institusi. Bertempat di Ballroom Grand Qin Hotel, Banjarbaru, ratusan perwakilan program studi teknik pertambangan se-Indonesia menghadiri sesi krusial berupa sosialisasi instrumen akreditasi Lembaga Akreditasi Mandiri Program Studi Keteknikan (LAMTEK) serta penyusunan kurikulum nasional.
Rangkaian kegiatan akademik pada hari ketiga ini diawali dengan kegiatan penyegaran berupa jalan santai dan tur singkat mengelilingi kawasan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pada pagi hari. Agenda tersebut dimanfaatkan oleh para peserta sebagai ruang diskusi informal untuk mempererat komunikasi antarperguruan tinggi sebelum memasuki sesi diskusi panel yang lebih formal.
Sesi pertama diskusi panel membedah secara mendalam Instrumen Akreditasi LAMTEK 2025. Tampil sebagai pemateri utama, Dr. Ir. Barlian Dwinagara, M.T., mengidentifikasi sejumlah kelemahan mendasar yang sering menghambat program studi teknik pertambangan dalam meraih predikat akreditasi "Unggul". Beliau menggarisbawahi pentingnya pemahaman yang utuh terhadap naskah akademik, keselarasan visi keilmuan prodi dengan program kerja, serta penerapan kurikulum Outcome-Based Education (OBE) yang terukur secara konsisten.
Dalam penjelasannya yang lebih mendalam, Barlian menyoroti fenomena penyusunan dokumen akreditasi yang sering kali bersifat mendadak menjelang visitasi, yang diibaratkannya tidak bisa disajikan secara instan layaknya "membuat sambal". Beliau menegaskan bahwa predikat "Unggul" menuntut konsistensi pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) melalui siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP) yang terekam secara berkala. Selain itu, program studi diingatkan agar tidak sekadar bertindak sebagai "kolektor" dokumen kerja sama (Memorandum of Understanding atau PKS) tanpa adanya bukti implementasi nyata yang secara langsung bermanfaat bagi penguatan mutu akademik.
Melengkapi materi akreditasi, Prof. Dr.Eng., Ir. Syafrizal, S.T., M.T., memaparkan pentingnya standardisasi kompetensi dosen dalam memenuhi kriteria Dosen Tetap Perguruan Tinggi (DTPS). Syafrizal menjelaskan bahwa kompetensi DTPS harus ditunjukkan secara nyata melalui pengajaran mata kuliah yang sesuai dengan bidang keahlian inti (Body of Knowledge) serta keterlibatan aktif dalam kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi.

Pada sesi siang, fokus pembahasan beralih pada Penyusunan Kurikulum FORKOPINDO guna merespons dinamika kebutuhan industri. Sesi kurikulum ini dipresentasikan oleh Ketua Bidang Pendidikan & Kurikulum BPP FORKOPINDO, Dr.Eng. Ir. Muhammad Ramli, M.T.. Dalam pemaparannya mengenai integrasi Tridharma dalam bahan ajar, Ramli didukung secara khusus oleh Ir. Hidayatullah Sidiq, S.T., M.T.. Dalam sesi kolaborasi ini, Hidayatullah Sidiq secara spesifik membedah perancangan dan standardisasi mata kuliah Capstone Design (Perencanaan Tambang) agar mampu melatih mahasiswa untuk memecahkan masalah rekayasa pertambangan yang riil dan kompleks.
Lebih lanjut, forum juga mendiskusikan transformasi metode pembelajaran dari yang semula bersifat pasif (passive learning) menjadi pembelajaran aktif (active learning), seperti studi literatur, mini-project, dan tugas proyek akhir, guna memacu kemampuan berpikir tingkat tinggi mahasiswa. Hal ini sejalan dengan tuntutan instrumen LAMTEK yang mewajibkan integrasi minimal 10% dari hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dosen ke dalam bahan ajar mata kuliah inti. Untuk mengukur efektivitasnya, pelaksanaan tracer study yang terkoordinasi secara reguler setiap tahun menjadi instrumen penting untuk memetakan waktu tunggu lulusan serta keselarasan bidang kerja mereka di industri pertambangan.
Sementara itu, dari perspektif jalur vokasi, Ketua Bidang Vokasi BPP FORKOPINDO, Dr. Reza Adhi Fajar, S.T., M.T., membedah standardisasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) untuk program Diploma Tiga (D3) dan Sarjana Terapan. Reza menekankan pentingnya kesesuaian kurikulum vokasi dengan level jabatan kerja di industri pertambangan agar para lulusan dapat langsung terserap dengan masa tunggu kerja yang minimal.
Seluruh agenda akademis hari ketiga ini berjalan di bawah pengawalan ketat jajaran kepemimpinan BPP FORKOPINDO periode 2025–2028, yang dipimpin oleh Dr. Edy Jamal Tuheteru, S.T., M.T. selaku Ketua Umum dan Dr. Ir. Tedy Agung Cahyadi, S.T., M.T. sebagai Sekretaris Umum. Konsolidasi akademis yang matang ini diharapkan mampu menjadi akselerator bagi program studi anggota FORKOPINDO di seluruh Indonesia untuk mencapai akreditasi Unggul secara kolektif.

