Forum Komunikasi Program Studi Teknik Pertambangan Seluruh Indonesia (FORKOPINDO) kembali menggelar agenda rutin pengembangan kapasitas akademik dan praktisi melalui webinar FORKOPINDO Berbagi Ilmu (FBI) ke-22. Mengangkat tema "Analisis Hidrogeologi Untuk Rekayasa Bidang Penggalian," perhelatan ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai pengelolaan air tanah dalam aktivitas pertambangan dan konstruksi bawah tanah.
Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal FORKOPINDO, Dr. Ir. Tedy Agung Cahyadi, S.T., M.T., yang mewakili Ketua Umum. Sebagaimana hasil Kongres II yang telah dilaksanakan sebelumnya, FORKOPINDO periode 2025-2028 secara resmi dipimpin oleh Dr. Ir. Edy Jamal Tuheteru, S.T., M.T. sebagai Ketua Umum dan Dr. Ir. Tedy Agung Cahyadi, S.T., M.T. sebagai Sekretaris Umum. Dalam sambutannya, Tedy menyampaikan bahwa program FBI dibentuk agar seluruh mahasiswa teknik pertambangan dari Sabang sampai Merauke memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh ilmu dari para pendidik ahli secara bergiliran.
Narasumber utama dalam seri kali ini adalah Prof. Dr. Eng. Ir. Muhammad Ramli, M.T., Guru Besar Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin (Unhas) sekaligus Ketua Bidang Pendidikan dan Kurikulum FORKOPINDO. Beliau menyoroti tantangan generasi insinyur muda saat ini yang mahir mengoperasikan perangkat lunak (software) namun sering kali kurang memahami prinsip-prinsip dasar hidrogeologi.
"Metodologi dan pemahaman prinsip dasar adalah 'benteng terakhir' bagi seorang praktisi. Jangan sampai kita terlalu bergantung pada hasil software tanpa memahami logika elevasi, tekanan air pori, dan jaring-jaring aliran air tanah," tegas Prof. Ramli dalam paparannya. Beliau menjelaskan bahwa air tanah bersifat dinamis, dan intervensi manusia melalui penggalian atau pembangunan terowongan dapat mengganggu siklus alami tersebut. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat memicu bencana seperti longsor atau penurunan permukaan tanah (subsidence).
Dalam sesi diskusi, Prof. Ramli juga memaparkan aplikasi praktis hidrogeologi dalam kestabilan lereng, desain fondasi, hingga teknis penambangan di bawah permukaan air laut. Ia menekankan bahwa dalam kegiatan tambang, air tanah tidak harus dihilangkan sepenuhnya, melainkan harus dikendalikan agar operasional tetap aman dan efisien.
Webinar yang dipandu oleh moderator Romla Noor Hakim, S.T., M.T. ini diikuti dengan antusiasme oleh jajaran dosen, praktisi, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Melalui kegiatan ini, FORKOPINDO terus berkomitmen menjadi wadah kolaborasi untuk meningkatkan mutu pendidikan teknik pertambangan nasional agar selaras dengan kebutuhan industri yang semakin kompleks.

