BANJARBARU – Rangkaian agenda Temu Nasional Tahunan (TNT) XII dan Workshop Mata Kuliah (WMK) X FORKOPINDO 2026 di Kalimantan Selatan memasuki hari kelima pada Selasa, 8 September 2026. Setelah menyelesaikan serangkaian diskusi akademis, penguatan kurikulum Outcome-Based Education (OBE), dan rapat organisasi, para akademisi teknik pertambangan se-Indonesia mengikuti kegiatan Field Trip eksklusif yang memadukan pengamatan sejarah pertambangan rakyat, wisata kebudayaan lokal, serta panorama geowisata terkemuka di Bumi Lambung Mangkurat.
Menyaksikan Kearifan Lokal di Tambang Intan Tradisional Cempaka
Perjalanan hari kelima dimulai sejak pagi hari setelah seluruh peserta menyelesaikan persiapan dan bertolak menuju lokasi pengamatan pertama di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Pada lokasi ini, para dosen dan pengelola program studi teknik pertambangan melakukan peninjauan langsung ke situs penambangan intan tradisional yang memiliki sejarah panjang dalam lanskap pertambangan rakyat di Indonesia.

Di area pengaliran dan pendulangan air, para peserta mengamati secara dekat teknik ekstraksi artisanal yang dilakukan oleh penambang lokal menggunakan dulang kayu tradisional (linggangan). Pengamatan lapangan ini memberikan perspektif nyata mengenai interaksi antara aspek geologi aluvial, pemisahan mineral berharga secara sederhana melalui gravitasi, serta nilai sosial-ekonomi pertambangan rakyat yang terus bertahan lintas generasi. Kunjungan lapangan ini menjadi ruang pembelajaran empiris yang melengkapi teori rekayasa pertambangan yang diajarkan di ruang perkuliahan.
Pusat Kerajinan dan Wisata Budaya Pasar Intan Martapura
Usai menyelesaikan pengamatan di Cempaka dan melangsungkan istirahat makan siang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pasar Intan Permata CBS (Cahaya Bumi Selamat) Martapura, serta pusat oleh-oleh khas daerah. Martapura, yang dikenal luas sebagai "Kota Intan", menjadi pusat niaga batu permata, perhiasan, dan kerajinan batu mulia hasil olahan masyarakat setempat.

Selama dua jam agenda bebas di kawasan pasar ini, para peserta berkesempatan melihat dari dekat rantai nilai hilirisasi batu permata, mulai dari proses pemotongan (cutting), penggosokan, hingga pemasaran perhiasan intan dan batu akik. Kunjungan ini sekaligus mendukung penguatan ekonomi kreatif dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal di Kabupaten Banjar.
Menikmati Sunset dan Keakraban di Tahura Geopark Meratus
Memasuki sore hari sekitar pukul 15.30 WITA, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan konservasi dan geowisata Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam Geopark Meratus di Mandiangin. Situs geopark ini menyajikan bentang alam Pegunungan Meratus yang memiliki nilai geologis sangat tinggi dengan batuan peninggalan kerak samudra purba.
Setibanya di lokasi, para peserta melakukan proses check-in di fasilitas glamping Geopark Meratus yang telah disiapkan panitia bagi peserta yang menginap. Rombongan kemudian memanfaatkan waktu jelang malam untuk menikmati panorama matahari terbenam (sunset) dari puncak perbukitan Mandiangin sambil menyaksikan hamparan hijau Pegunungan Meratus.

Rangkaian kegiatan hari kelima ini ditutup dengan acara makan malam bersama dan ramah tamah yang berlangsung hangat hingga pukul 22.00 WITA. Di tengah suasana alam pegunungan yang asri, para peserta saling bertukar kesan, mempererat silaturahmi antarkampus, dan mengabadikan momen kebersamaan sebelum rombongan kembali ke Banjarbaru untuk beristirahat.

